Peristiwa teror beruntun di Surabaya  menyita perhatian warga Indonesia. Bagaimana tidak, menjelang bulan suci Ramadhan, sejumlah oknum melakukan tindakan biadap dengan meledakkan bom bunuh diri hingga melukai bahkan membunuh orang lain.

Peristiwa itu membuktikan bahwa jaringan teroris ternyata masih bergerak secara diam-diam di Indonesia.

Salahsatu jaringan teroris yang terkenal di Indonesia adalah Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Organisasi tersebut dipimpin oleh Amman Abdurahman yang kini mendekam di sel Mako Brimob Kelapa Dua.

Dikutip dari Republika Online, kelompok ini diketahui secara terang-terangan mengakui bahwa mereka tunduk dan patuh terhadap kelompok ISIS di Timur Tengah.

Sehingga JAD menjadi wadah simpatisan ISIS yang ada di Indonesia.

JAD didirikan pada 2015, JAD yang juga dikenal sebagai Jamaah Anshorut Daulah Khilafah Nusantara (JADKN), pimpinan Bahrun Naim. Ia merupakan WNI yang tinggal di Suriah dan menjadi koordinator ISIS di Indonesia.

Ideologi ISIS yang mereka gunakan, menjadi alasan pembenaran bagi para anggotanya untuk menyebarkan teror dan paham radikal di tengah-tengah masyarakat.

Ratusan orang yang menyatakan setia kepada ISIS, banyak yang bergabung dengan JAD.

Bahkan, pada Januari 2017 lalu, pihak Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) bahkan melabeli JAD sebagai organisasi Indonesia yang memiliki hubungan dengan kelompok teror pimpinan Abu Bakr Al-Bahgdadi yang paling disegani.

Cuci Otak

Lalu bagaimana JAD mengkader anggotanya menjadi teroris. Seperti organisasi teroris lain, JAD menyelenggarakan training lewat internet termasuk doktrin hingga cara membuat bom secara otodidak.

Dakwah cuci otak adalah cara ampuh bagi kelompok ini untuk memperluas simpatisan di Indonesia.

Jalur agama menjadi salah satu penyebaran ideologi yang ampuh bagi JAD untuk merekrut anggota. Metode yang digunakan di lapangan dinamakan sebagai penjejalan dakwah.

Oleh bahrun Naim, ia merekomendasikan proses cuci otak bisa dijalankan melalui aplikasi Android, eBook dan perangkat digital lainnya.

Doktrin yang mereka gunakan adalah Takfiri. Yakni sebuah penanaman pemahaman bahwa segala sesuatu yang bukan berasal dari Tuhan adalah haram. Pelakunya pun langsung divonis sebagai kafir yang halal untuk diperangi.

Bom Rakitan

Bagi mereka yang baru bergabung dengan JAD, hal pertama yang akan diterima adalah membuat bom secara otodidak melalui kursus online.

Pelatihan ini diajarkan oleh Bahrun Naim melalui training singkat lewat internet. Dalam komunikasi dan pendanaan, pentolan organisasi tersebut melakukannya lewat sosial media dan transfer antar bank.

Dengan begitu, rata-rata anggota JAD telah memiliki keahlian membuat bom secara mandiri dengan berbagai macam bahan dan dukungan finansial.

Selain itu, kelompok ini juga mudah dikenali lewat jenis bom yang digunakan.

Saat beraksi, para anggota JAD sering menggunakan serangan berupa ledakan di keramaian. Salah satunya adalah bom panci yang menghebohkan terminal di Jakarta beberapa waktu lalu.

Kelompok ini sangat mudah dikenali dari jenis bahan dan bom yang dibuat. Seperti panci, gunting, mur, tinner pembersih kuku dan peledak BATP yang lazim digunakan oleh ISIS.

Demikian sederet fakta mengenai JAD, jaringan teroris yang berada di Indonesia.